Promosi sudah dilakukan. Iklan sudah berjalan. Konten juga rutin diunggah.
Tapi, apakah semua itu sudah memberikan hasil?
Dalam digital marketing, promosi tanpa target yang jelas bisa membuat bisnis sulit mengukur keberhasilan. Bahkan, budget marketing bisa terpakai tanpa hasil yang optimal.
Karena itu, bisnis perlu menentukan KPI kampanye marketing sebelum menjalankan promosi.
KPI membantu bisnis melihat apakah sebuah kampanye berhasil mencapai target. Dengan KPI yang tepat, setiap aktivitas marketing dapat diukur dan dievaluasi.
Apa Itu KPI Kampanye Marketing?
KPI kampanye marketing adalah indikator untuk mengukur keberhasilan sebuah kampanye pemasaran.
Setiap kampanye memiliki tujuan yang berbeda. Karena itu, KPI yang digunakan juga tidak selalu sama.
Misalnya, bisnis ingin:
- Meningkatkan brand awareness.
- Mendapatkan leads baru.
- Meningkatkan engagement.
- Mendatangkan traffic ke website.
- Meningkatkan penjualan.
- Mendapatkan pelanggan baru.
Jadi, jangan hanya melihat jumlah likes atau views. Lihat juga apakah kampanye tersebut memberikan dampak bagi bisnis.
Mengapa KPI Penting dalam Marketing?
Tanpa KPI, bisnis akan sulit mengetahui hasil kampanye.
Contohnya, sebuah video mendapatkan 100 ribu views. Angka tersebut memang terlihat besar.
Namun, bagaimana jika tujuan kampanyenya adalah mendapatkan leads?
Jika video tersebut hanya menghasilkan sedikit calon pelanggan, berarti hasilnya belum tentu sesuai target.
Dengan KPI yang jelas, bisnis dapat mengetahui:
- Apakah kampanye mencapai target?
- Channel mana yang paling efektif?
- Apakah budget digunakan dengan baik?
- Konten apa yang paling menarik?
- Berapa banyak leads yang dihasilkan?
- Apakah kampanye menghasilkan penjualan?
Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi berikutnya.
Cara Menentukan KPI Kampanye Marketing
1. Tentukan Tujuan Kampanye
Pertama, tentukan tujuan kampanye.
Jangan langsung memilih KPI tanpa mengetahui tujuan yang ingin dicapai.
Misalnya:
Tujuan: meningkatkan brand awareness
KPI yang bisa digunakan adalah:
- Reach
- Impressions
- Video views
- Brand mentions
Tujuan: mendapatkan leads
KPI yang bisa digunakan adalah:
- Jumlah leads
- Conversion rate
- Cost per lead
- Jumlah inquiry
Tujuan: meningkatkan penjualan
KPI yang bisa digunakan adalah:
- Jumlah transaksi
- Revenue
- Conversion rate
- ROAS
Dengan begitu, KPI akan lebih sesuai dengan tujuan kampanye.
2. Gunakan KPI yang Bisa Diukur
KPI harus memiliki angka yang jelas.
Jangan hanya mengatakan:
“Ingin meningkatkan engagement.”
Buat target yang lebih spesifik.
Contohnya:
“Meningkatkan engagement rate sebesar 20% dalam satu bulan.”
Target tersebut lebih mudah diukur. Hasilnya juga lebih mudah dibandingkan dengan performa sebelumnya.
3. Sesuaikan KPI dengan Customer Journey
Tidak semua orang langsung membeli setelah melihat sebuah iklan.
Biasanya, audiens melewati beberapa tahap. Mereka mulai dari mengenal brand, mempertimbangkan produk, lalu melakukan pembelian.
Karena itu, KPI juga harus disesuaikan dengan tahap tersebut.
Awareness
Fokus pada:
- Reach
- Impressions
- Video views
Consideration
Fokus pada:
- Website traffic
- Engagement
- Profile visits
- Content interactions
Conversion
Fokus pada:
- Leads
- Inquiries
- Purchases
- Conversion rate
Retention
Fokus pada:
- Repeat order
- Customer retention
- Customer engagement
Dengan cara ini, bisnis dapat mengukur performa di setiap tahap customer journey.
4. Jangan Hanya Melihat Vanity Metrics
Likes, followers, views, dan impressions memang penting.
Namun, angka tersebut tidak selalu menunjukkan hasil bisnis.
Misalnya, sebuah konten mendapatkan 50 ribu views. Akan tetapi, konten tersebut hanya menghasilkan satu inquiry.
Apakah kampanye tersebut berhasil?
Jawabannya tergantung pada tujuan kampanye.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak orang yang melihat?”
Tanyakan juga:
“Berapa banyak orang yang melakukan tindakan sesuai target?”
Dengan begitu, evaluasi kampanye akan lebih tepat.
5. Tentukan Target yang Realistis
KPI juga harus memiliki target yang realistis.
Jangan membuat target hanya berdasarkan keinginan. Gunakan data sebagai pertimbangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Budget marketing
- Target audiens
- Durasi kampanye
- Channel marketing
- Performa sebelumnya
- Kondisi pasar
Target yang realistis akan membuat evaluasi menjadi lebih objektif.
Contoh KPI Berdasarkan Tujuan Marketing
| Tujuan | KPI |
|---|---|
| Brand Awareness | Reach, Impressions, Video Views |
| Engagement | Engagement Rate, Comments, Shares, Saves |
| Website Traffic | Website Visits, CTR |
| Lead Generation | Leads, CPL, Conversion Rate |
| Penjualan | Revenue, Transactions, ROAS |
| Retention | Repeat Order, Retention Rate |
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa setiap tujuan membutuhkan KPI yang berbeda.
Jadi, tidak ada satu KPI yang cocok untuk semua kampanye.
Lakukan Evaluasi Secara Berkala
Menentukan KPI bukan berarti pekerjaan selesai.
Performa kampanye tetap harus dipantau. Dengan begitu, bisnis dapat mengetahui apakah strategi berjalan sesuai target.
Jika hasilnya belum optimal, lakukan evaluasi.
Misalnya dengan:
- Mengubah materi iklan.
- Menguji copywriting baru.
- Menyesuaikan target audiens.
- Mengoptimalkan landing page.
- Mengatur kembali budget.
- Menguji channel marketing lain.
Dengan evaluasi rutin, strategi marketing dapat terus berkembang.
Jangan Asal Promosi, Mulai dari Strategi
Marketing bukan hanya soal membuat konten dan memasang iklan.
Marketing juga membutuhkan strategi yang jelas.
Mulai dari tujuan, target audiens, channel, hingga KPI. Semua bagian tersebut perlu direncanakan sejak awal.
Dengan menentukan KPI kampanye marketing, bisnis dapat mengetahui apakah promosi sudah memberikan hasil yang sesuai target.
Jadi, jangan hanya mengejar views dan likes.
Fokuslah pada angka yang benar-benar mendukung tujuan bisnis.
Ingin menjalankan kampanye digital yang lebih terarah dan terukur?
Lensagram siap membantu bisnis kamu menyusun strategi digital marketing yang sesuai dengan kebutuhan dan target bisnis.
Jangan asal promosi. Saatnya membangun strategi marketing yang terukur bersama Lensagram!